Catatan: Artikel ini merupakan rangkuman dari dua dokumen penjelasan tentang KHGT yang diterbitkan oleh PP Muhammadiyah pada tahun 2025, yaitu (1) THE UNIFIED GLOBAL HIJRI CALENDAR (versi bahasa Inggris) dan (2) Buku Saku Understanding the Unified Global Hijri Calendar.
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa perayaan hari besar Islam seperti Idulfitri atau Idul Adha sering kali jatuh pada tanggal yang berbeda di berbagai belahan dunia, bahkan terkadang berbeda dalam satu negara? Selama lebih dari 14 abad peradaban Islam, kita belum memiliki kalender seragam yang dapat menyatukan penentuan hari-hari besar tersebut secara konsisten.
Sebagai organisasi Islam yang berkemajuan, Muhammadiyah resmi mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) atau Unified Global Hijri Calendar (UGHC). Keputusan besar ini diambil dalam Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-32 tahun 2024 dan akan mulai diimplementasikan pada 1 Muharram 1447 H, yang bertepatan dengan 26 Juni 2025 M.
Siapa yang Merumuskan KHGT?
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) atau Unified Global Hijri Calendar (UGHC) bukanlah hasil pemikiran satu orang atau satu organisasi saja. Konsep ini lahir dari proses panjang dan kolaborasi internasional yang melibatkan para ilmuwan, ulama, dan organisasi Islam dari berbagai negara.
Gagasan tentang kalender Islam global sudah muncul sejak lama. Pada tahun 1939, Sheikh Ahmad Muhammad Shākir, seorang ahli hadis, telah menyuarakan pentingnya penggunaan perhitungan astronomi untuk kalender Islam. Setelah itu, beberapa ilmuwan Muslim seperti Mohammad Ilyas (1978) dan Nidhal Guessoum (1993) juga mengembangkan gagasan kalender Islam internasional, meskipun masih berbasis zona wilayah.
Pada tahun 2004, Jamaluddin ‘Abd ar-Raziq mengembangkan konsep kalender global dengan prinsip “satu hari, satu tanggal” bagi seluruh dunia. Prinsip inilah yang kemudian menjadi fondasi utama bagi sistem KHGT.
Bentuk konsep kalender global yang lebih matang kemudian dibahas dalam Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Hijriah yang diselenggarakan di Istanbul, Turki, pada tahun 2016. Dalam konferensi ini, para ahli falak, ulama, dan perwakilan lembaga Islam dari berbagai negara mendiskusikan dan memilih model kalender global yang dianggap paling memungkinkan untuk diterapkan.
Status Konsensus Global
Upaya penyatuan kalender Hijriah sebenarnya telah lama menjadi perhatian dunia Islam.
-
Dukungan Lembaga Internasional: Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) melalui Deklarasi Dakar tahun 2008 telah menyerukan pentingnya penyatuan kalender Islam. Lembaga pendidikan dan kebudayaan di bawah OIC, yaitu ISESCO, juga mendukung konsep kalender global ini.
-
Penerapan oleh Muhammadiyah: Di Indonesia, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi yang secara resmi mengadopsi KHGT melalui Keputusan Munas Tarjih ke-32 tahun 2024. Implementasinya dimulai pada 1 Muharram 1447 H (26 Juni 2025).
-
Bukan Hanya Muhammadiyah: KHGT bukan milik satu organisasi tertentu. Ia merupakan hasil perkembangan pemikiran kolektif umat Islam. Beberapa komunitas Muslim di Amerika dan Eropa juga telah menggunakan pendekatan kalender global dalam praktik penentuan awal bulan.
-
Menuju Konsensus Dunia: Meskipun secara ilmiah dan secara teknis sistem ini sangat memungkinkan, penerapan KHGT sebagai kalender tunggal umat Islam dunia masih memerlukan dialog dan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah, ulama, dan organisasi Islam di berbagai negara.
Mengapa Kita Membutuhkan KHGT?
Dunia saat ini sudah sangat terhubung dan seolah menjadi “desa global” yang kecil di mana batasan geografis tidak lagi signifikan. Penggunaan kalender lokal yang berbeda-beda di tiap negara dianggap tidak lagi konsisten dengan realitas kehidupan modern yang menuntut standardisasi waktu global.
Salah satu masalah nyata dari kalender lokal adalah fenomena “puasa 28 hari”. Hal ini pernah dialami jamaah umrah yang berangkat dari wilayah yang memulai Ramadan lebih lambat, namun merayakan Idulfitri di Mekah yang memulai lebih awal. Padahal, secara syariat, jumlah hari dalam satu bulan Hijriah tidak boleh kurang dari 29 hari. KHGT hadir untuk memberikan kepastian agar “satu hari, satu tanggal” berlaku di seluruh dunia, sama seperti sistem kalender Masehi.
Landasan Agama yang Kuat
Muhammadiyah tidak melangkah tanpa dasar. KHGT memiliki landasan syar’i yang kokoh:
-
Universalitas Islam: Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 189, disebutkan bahwa fase bulan adalah penunjuk waktu li al-nās (bagi manusia/seluruh umat manusia), yang menunjukkan bahwa kalender Islam seharusnya bersifat universal dan global.
-
Kesatuan Ibadah: Hadis Nabi mengenai puasa dan berhari raya menggunakan kata ganti jamak (“kalian”), yang mengisyaratkan bahwa ibadah tersebut idealnya dilakukan secara serentak sebagai satu kesatuan umat.
-
Persatuan Hari Arafah: Tanpa kalender global, umat Islam sering bingung mengikuti Hari Arafah di Mekah atau di wilayahnya sendiri. KHGT memastikan hari Arafah jatuh pada hari yang sama di seluruh dunia.
Bagaimana KHGT Bekerja? (Prinsip Ilmiah)
Secara teknis, KHGT menggunakan metode Hisab Hakiki (perhitungan astronomi presisi) yang kini sudah bisa menghitung posisi bulan hingga tingkat milidetik. Berikut prinsip utamanya secara sederhana:
-
Satu Matlak Global: Menganggap seluruh Bumi sebagai satu zona waktu tunggal. Jika kriteria bulan baru terpenuhi di satu tempat, maka berlaku untuk seluruh dunia.
-
Kriteria Hilal: Bulan baru dimulai jika di bagian Bumi mana pun sebelum pukul 24:00 UTC (Tengah Malam Waktu Dunia), hilal sudah mencapai tinggi minimal 5 derajat dan jarak lengkung (elongasi) minimal 8 derajat.
-
Garis Tanggal Internasional: KHGT menerima Garis Tanggal Internasional yang sudah ada sebagai batas pergantian hari agar tidak terjadi kebingungan penanggalan.
Manfaat Nyata bagi Umat
Implementasi KHGT bukan sekadar soal hitungan, tapi soal kemajuan peradaban:
-
Kepastian Ibadah: Kita bisa mengetahui tanggal Idul Fitri atau Idul Adha hingga bertahun-tahun ke depan dengan pasti, memudahkan perencanaan kegiatan ibadah dan sosial.
-
Disiplin dan Keteraturan: Memperkuat disiplin umat dalam beribadah dan mendukung koordinasi kegiatan ekonomi global.
-
Meminimalkan Debat: Mengurangi perdebatan panjang setiap tahun yang sering menguras energi umat mengenai penentuan awal bulan.
Langkah Muhammadiyah ini adalah wujud nyata dari Tajdid (Pembaruan) untuk kemaslahatan umat manusia. Mari kita dukung dan sambut kehadiran Kalender Hijriah Global Tunggal ini sebagai jembatan menuju persatuan umat Islam sedunia. Dengan bersatu dalam waktu, kita berharap persatuan dalam aspek lainnya akan semakin kokoh di masa depan.
Penulis: Aditya Satrya














