Artikel ini merujuk pada gagasan yang disampaikan dalam Instagram Reels @aldayudha (https://www.instagram.com/p/DVX9jfKDMO9/), dengan pengayaan konteks historis dan kelembagaan.
Penetapan awal bulan Hijriah merupakan bagian penting dalam kehidupan umat Islam, terutama dalam menentukan waktu ibadah seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Sejak berdiri lebih dari satu abad lalu, Muhammadiyah telah menunjukkan komitmen kuat dalam merumuskan sistem kalender Islam yang berbasis pada kajian keislaman dan ilmu astronomi.
Dinamika Kriteria Penetapan Awal Bulan
Dalam perjalanan sejarahnya, Muhammadiyah tidak terpaku pada satu metode tunggal. Selama lebih dari 100 tahun, telah terjadi beberapa kali perubahan dan penyempurnaan kriteria penetapan awal bulan Hijriah.
Muhammadiyah pernah menggunakan kriteria Ijtimak Qobla al-Ghurub sejak masa awal berdiri (1912) hingga pertengahan abad ke-20, kemudian memperkenalkan dan mengembangkan pendekatan Imkanur Rukyat (mulai 1927 dan berkembang dalam beberapa dekade berikutnya), selanjutnya menggunakan Wujudul Hilal secara lebih sistematis sejak akhir abad ke-20 hingga awal dekade 2020-an, dan kini mengembangkan serta mengimplementasikan KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal) yang diputuskan pada 2024.
KHGT sebenarnya telah menjadi gagasan yang dipelajari dan dikaji sejak 1438 H/2016 M, bahkan prototipe kalendernya telah disusun sejak 1442 H/2021 M sebagai bagian dari proses penyempurnaan menuju adopsi penuh.
Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah bersikap dinamis dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang astronomi (ilmu falak), selama tetap berpijak pada prinsip-prinsip syariah.
Terbuka terhadap Penyempurnaan
Apakah di masa depan Muhammadiyah mungkin kembali mengganti kriteria yang digunakan?
Secara prinsip, hal tersebut sangat mungkin terjadi. Pergantian kriteria bukanlah hal yang tabu dalam sejarah Muhammadiyah. Jika terdapat kriteria yang dinilai lebih baik secara ilmiah, lebih kuat secara metodologis, serta memiliki potensi nyata untuk menyatukan umat Islam di seluruh dunia, maka ruang dialog dan kajian akan selalu terbuka.
Muhammadiyah tidak menjadikan satu kriteria tertentu sebagai tujuan akhir. Yang menjadi orientasi utama adalah terwujudnya sistem kalender Islam yang mampu menghadirkan kepastian, kemudahan, serta—yang terpenting—persatuan umat.
Orientasi pada Persatuan Umat
KHGT dikembangkan sebagai upaya menuju unifikasi kalender Islam secara global. Namun, jika di kemudian hari terdapat gagasan yang lebih representatif dan lebih mampu mengakomodasi kebutuhan umat Islam secara universal, Muhammadiyah siap berdiskusi bersama para ulama, cendekiawan, dan astronom dari berbagai organisasi dan negara.
Syaratnya jelas: konsep tersebut harus dapat diterapkan secara global, memiliki landasan syar’i dan ilmiah yang kokoh, serta dapat digunakan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia.
Dengan demikian, semangat yang dibangun bukanlah mempertahankan sebuah nama atau istilah kriteria, melainkan memperjuangkan sistem kalender yang membawa kemaslahatan dan menyatukan umat Islam.
Muhammadiyah akan terus berkomitmen pada pendekatan ilmiah, dialogis, dan terbuka, demi terwujudnya kalender Hijriah yang semakin akurat, pasti, dan mempersatukan.
Penulis: Aditya Satrya














