Kesabaran Rasulullah ﷺ dan para sahabat bukanlah ketahanan yang muncul tanpa sebab. Di tengah kehilangan, tekanan, dan ancaman, mereka memiliki bekal ruhani yang membuat hati tetap teguh, ikhtiar terus berjalan, dan amanah dakwah tidak ditinggalkan. Sirah menunjukkan bahwa sabar bukan sekadar bertahan, melainkan juga tetap taat dan bergerak bersama Allah di tengah ujian.
Rekaman Kajian
Artikel ini disarikan dari Kajian Sirah Nabawiyah Muhammadiyah Jerman yang diselenggarakan secara daring pada Ahad, 28 Juni 2026. Kajian disampaikan oleh Ust. Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Kajian kali ini melanjutkan pembahasan tentang Amul Huzni, tahun ketika Rasulullah ﷺ kehilangan Abu Thalib dan Khadijah radhiallahu ‘anha setelah melewati pemboikotan panjang di Makkah. Namun, tema utamanya bukan lagi urutan peristiwa. Kajian mengajak jamaah melihat apa yang membuat Rasulullah ﷺ dan para sahabat mampu menghadapi ujian dengan sabar, tabah, dan teguh.
Pembahasan tersebut merujuk pada bab ‘Awamil ash-Shabr wa ats-Tsabat dalam kitab Ar-Rahiq al-Makhtum karya Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri: faktor-faktor yang menguatkan kesabaran dan keteguhan. Bab ini menjadi bekal untuk membaca fase-fase sirah berikutnya yang tidak semakin ringan. Setelah hijrah dan jumlah kaum muslimin bertambah, mereka masih akan menghadapi peperangan, kehilangan, serta berbagai ujian lainnya.
Kesabaran Bukan Berdiam Diri
Setelah Amul Huzni, Rasulullah ﷺ tidak berhenti berdakwah. Beliau pergi ke Thaif, mengalami penolakan, lalu tetap menyusun kembali strategi dakwah. Pada musim haji, beliau memilih keluar pada malam hari dan bertemu dengan enam pemuda dari Yatsrib. Mereka mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, menerima Islam, dan berjanji untuk kembali membawa orang lain. Pertemuan itu kemudian membuka jalan menuju Baiat Aqabah dan hijrah ke Madinah.
Rangkaian ini menunjukkan bahwa sabar tidak sama dengan pasrah tanpa usaha. Rasulullah ﷺ menerima ketetapan Allah, tetapi tetap membaca keadaan, mengubah cara, dan mencari jalan dakwah yang memungkinkan. Kesabaran menjaga hati agar tidak runtuh, sedangkan ikhtiar menjaga amanah agar tidak terhenti.
Mendapatkan kesulitan bukan tanda bahwa seseorang itu hina, melainkan tanda bahwa ia sedang diuji. Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi beliau tetap kehilangan orang-orang yang dicintai, terluka dalam perjuangan, dan meneteskan air mata ketika para sahabat wafat. Jika seorang mukmin mampu bersabar dalam ujian itu, maka kesulitan tersebut dapat menjadi jalan kemuliaan baginya, bukan alasan untuk menyerah.
Tasbih dan Doa di Tengah Kesulitan
Kisah Nabi Yunus alaihissalam menunjukkan bahwa di titik paling gelap sekalipun, jalan pertama seorang hamba adalah kembali kepada Allah. Di dalam kegelapan perut ikan, beliau berdoa sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Anbiya ayat 87:
“Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Doa itu berisi tauhid, tasbih, dan pengakuan diri. Tidak ada kalimat yang secara langsung menentukan bentuk pertolongan yang diminta. Nabi Yunus alaihissalam menyucikan Allah dan menyerahkan jalan keluar kepada-Nya. Surah Ash-Shaffat ayat 143–144 juga mengingatkan bahwa seandainya beliau bukan termasuk orang yang banyak bertasbih, niscaya beliau akan tetap berada di dalam perut ikan sampai hari kebangkitan.
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak bertasbih, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Ash-Shaffat: 143–144)
Kisah ini mengajarkan bahwa tasbih bukan sekadar ucapan ringan. Dengan mengucapkan subhanallah, seorang hamba membersihkan prasangkanya kepada Allah. Ia mengakui bahwa Allah Mahasuci dari kesalahan dan ketidakadilan, sementara dirinya terbatas dalam memahami hikmah di balik kejadian.
Pelajaran serupa tampak dalam kisah Ashabul Kahfi. Ketika menghadapi penguasa zalim dan masyarakat yang rusak, para pemuda itu memohon rahmat dan petunjuk kepada Allah: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami” (QS. Al-Kahfi: 10). Mereka berikhtiar menjaga iman, berlindung di dalam gua, dan menyandarkan keselamatan kepada Allah.
Doa dan zikir dengan demikian bukan pelarian dari masalah. Keduanya menempatkan hati pada sandaran yang benar agar seorang mukmin dapat menjalani masalah tanpa kehilangan arah.
1. Iman kepada Allah sebagai Pangkal Kekuatan
Faktor pertama dan paling mendasar adalah al-iman billah, iman kepada Allah. Para sahabat mengenal Allah dengan keyakinan yang tertanam kuat. Mereka memahami bahwa diri mereka, kehidupan, rezeki, dan seluruh alam berada dalam kekuasaan-Nya. Karena itu, hati mereka tidak mudah diguncangkan oleh perubahan keadaan.
Keimanan ini juga membentuk cara menilai keberhasilan. Tidak semua orang diberi kesempatan menyaksikan hasil perjuangannya di dunia. Ada yang melihat kemenangan, ada pula yang wafat lebih dahulu. Namun, apabila suatu amal sejak awal dilakukan karena Allah, proses dan hasilnya tetap bernilai baik di sisi-Nya.
Dalam kajian dikutip sebuah hikmah yang menyatakan bahwa salah satu tanda keberhasilan pada akhirnya ialah kembali kepada Allah sejak permulaan. Niat yang lurus membebaskan seseorang dari ketergantungan kepada hasil yang segera terlihat. Ia tetap bersungguh-sungguh, tetapi tidak mengukur seluruh nilai amal hanya dari tepuk tangan, jumlah pengikut, atau tercapainya target duniawi.
Inilah pangkal ketabahan para sahabat. Mereka tidak sekadar mempercayai sebuah gagasan, melainkan menyerahkan hidup kepada Allah. Ketika tujuan tertinggi adalah rida-Nya, ujian tidak otomatis menghapus makna perjuangan.
2. Kepemimpinan Rasulullah yang Menenteramkan Hati
Faktor kedua adalah kepemimpinan Rasulullah ﷺ yang membuat hati merasa tenteram. Kemuliaan akhlak beliau bahkan tidak dapat dibantah oleh para penentangnya. Permusuhan sebagian pemuka Quraisy tidak lahir karena mereka menemukan keburukan dalam diri Nabi, melainkan karena kedengkian, persaingan, dan kesombongan.
Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan perintah tentang kesabaran. Beliau sendiri membawa ketenangan, kesabaran, ketabahan, dan keteguhan dalam setiap tahap dakwah. Para sahabat melihat teladan itu secara langsung. Ketika pemimpin tetap jernih dalam keadaan sulit, umat tidak mudah dikuasai kepanikan.
Kepemimpinan yang menenteramkan bukan kepemimpinan yang menjanjikan bahwa perjalanan akan selalu mudah. Rasulullah ﷺ justru menyiapkan para sahabat untuk memahami kenyataan ujian, lalu mendampingi mereka dengan keteladanan. Beliau merasakan lapar bersama mereka, kehilangan orang-orang tercinta, terluka, dan terus menjalankan amanah.
Dari sini, sirah memberi pelajaran bahwa ketahanan sebuah jamaah sangat dipengaruhi oleh mutu kepemimpinannya. Keteguhan tidak cukup disampaikan lewat kata-kata; ia perlu terlihat dalam sikap, keputusan, dan kesediaan seorang pemimpin untuk memikul beban bersama umat.
3. Rasa Tanggung Jawab terhadap Amanah
Faktor ketiga adalah asy-syu’ur bil-mas’uliyyah, kesadaran akan tanggung jawab. Para sahabat memandang dakwah sebagai amanah besar. Mereka menyadari bahwa risiko meninggalkan amanah jauh lebih berat daripada risiko yang harus ditanggung ketika menjalankannya. Jika kebenaran tidak disampaikan, kesesatan dan kerusakan akan semakin merajalela dalam kehidupan manusia.
Kajian menggambarkan kesadaran ini melalui keteguhan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Ketika Rasulullah ﷺ diserang di sekitar Ka’bah, Abu Bakar maju membela beliau hingga dikeroyok dan mengalami luka berat. Setelah siuman, pertanyaan pertamanya bukan tentang dirinya, melainkan tentang keadaan Rasulullah ﷺ.
Keluarganya telah mengatakan bahwa Nabi dalam keadaan baik, tetapi Abu Bakar belum merasa tenang sebelum melihat beliau sendiri. Dalam kondisi belum mampu berjalan, ia meminta diantar ke rumah Al-Arqam. Ia bahkan tidak bersedia makan dan minum sebelum memastikan Rasulullah ﷺ selamat.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa amanah telah menjadi pusat orientasi hidup para sahabat. Rasa sakit tidak mereka abaikan karena tidak berharga, tetapi ditempatkan di bawah tanggung jawab yang lebih besar. Mereka tidak bertanya, “Apa yang akan aku dapatkan?” melainkan, “Apa yang harus aku tunaikan?”
Kesadaran seperti inilah yang membuat seseorang tetap berjalan ketika semangat sesaat telah surut. Tanggung jawab mengubah kesabaran dari sikap individual menjadi daya tahan untuk melindungi risalah, jamaah, dan kemaslahatan manusia.
4. Iman kepada Hari Akhir
Faktor keempat adalah iman kepada hari akhir. Para sahabat tidak memandang dunia sebagai tempat penyelesaian semua perkara. Ada amal yang hasilnya belum tampak, kezaliman yang belum memperoleh balasan, dan pengorbanan yang belum dihargai manusia. Namun, akhirat memastikan bahwa tidak ada satu pun amanah yang hilang dari perhitungan Allah.
Keyakinan ini juga menjaga seseorang ketika memperoleh kedudukan. Utbah bin Ghazwan radhiallahu ‘anhu, ketika menjadi gubernur Basrah, menunjukkan bahwa jabatan tidak boleh membuat hati lupa kepada akhirat. Khotbah pertamanya justru berisi peringatan tentang akhirat, surga, dan neraka. Ia berlindung kepada Allah dari perasaan besar dalam pandangan dirinya sendiri, padahal kecil di sisi Allah.
Iman kepada akhirat membuat kesulitan dunia tidak terasa sebagai akhir segalanya. Pada saat yang sama, ia membuat keberhasilan dunia tidak berubah menjadi kesombongan. Seorang mukmin sadar bahwa jabatan, kekuasaan, dan pujian tidak menggugurkan pertanggungjawaban.
Dengan pandangan seperti ini, sabar bukan hanya kemampuan menghadapi kesusahan. Sabar juga berarti tetap rendah hati ketika memperoleh kelapangan dan tetap amanah ketika memegang kuasa.
5. Al-Qur’an sebagai Pegangan
Faktor kelima adalah Al-Qur’an. Sejak awal, wahyu telah menyiapkan kaum muslimin agar memahami bahwa keimanan akan diuji. Surah Al-Ankabut ayat 2-3 menegaskan bahwa manusia tidak dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” tanpa menghadapi ujian. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar dan siapa yang berdusta dalam pengakuannya.
Surah Ali Imran ayat 142 juga mengingatkan bahwa jalan menuju surga menuntut perjuangan dan kesabaran. Sementara itu, Surah Al-Baqarah ayat 214 menggambarkan bagaimana umat terdahulu ditimpa kesengsaraan dan diguncangkan, hingga rasul serta orang-orang beriman bersamanya bertanya kapan pertolongan Allah akan tiba. Jawabannya meneguhkan: pertolongan Allah itu dekat.
Ayat-ayat tersebut membentuk cara pandang kaum muslimin terhadap ujian. Kesulitan tidak selalu berarti bahwa jalan yang dipilih keliru. Ia dapat menjadi bagian dari pembuktian iman, pendidikan jiwa, dan persiapan menuju amanah yang lebih besar.
Al-Qur’an juga menghadirkan kisah-kisah yang mengajarkan cara membaca kehidupan. Dalam kisah Nabi Yusuf alaihissalam, sesuatu yang tampak menyenangkan dapat menjadi pintu ujian, sedangkan tempat yang tampak sempit dapat menjadi jalan keselamatan. Nabi Yusuf dicintai oleh ayahnya, tetapi kecintaan itu memancing kecemburuan saudara-saudaranya. Ia hidup di istana, tetapi justru memilih penjara untuk menjauh dari fitnah. Pada akhirnya, orang yang teguh pada ketetapan Allah memperoleh kemenangan dan ketenangan sejati.
Karena itu, Al-Qur’an perlu hadir bukan hanya sebagai bacaan, tetapi juga sebagai cara pandang. Ia membantu seorang mukmin menilai peristiwa berdasarkan petunjuk Allah, bukan semata-mata berdasarkan rasa nyaman atau tidak nyaman.
6. Kabar Gembira tentang Pertolongan dan Kemenangan
Faktor keenam adalah al-bisyarah bin-najah, kabar gembira tentang keberhasilan. Allah menanamkan keyakinan bahwa pertolongan-Nya pasti akan datang. Kemenangan itu dapat terwujud di dunia, disempurnakan di akhirat, atau hadir dalam bentuk yang tidak selalu sama dengan bayangan manusia.
Kabar gembira ini bukan alasan untuk bersantai. Rasulullah ﷺ terus mengubah strategi, menemui kabilah-kabilah, dan menyiapkan jalan hijrah. Para sahabat tetap menanggung risiko, belajar Al-Qur’an, dan melaksanakan amanah. Harapan kepada pertolongan Allah justru memberi tenaga untuk terus berikhtiar.
Di sinilah keseimbangan seorang mukmin dibentuk: ia tidak putus asa karena yakin akan janji Allah, tetapi juga tidak berpangku tangan karena sadar akan tanggung jawabnya. Ia berusaha sebaik mungkin tanpa merasa bahwa hasilnya sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Menghidupkan Kembali Tradisi Ruhani Muhammadiyah
Enam faktor tersebut tetap relevan bagi warga Muhammadiyah saat ini. Mengaji, membaca Al-Qur’an, berzikir, menjaga salat, serta menghidupkan zikir pagi dan petang bukan sekadar amalan pribadi, tetapi juga bagian dari tradisi ruhani yang pernah menguatkan generasi awal Persyarikatan. Kesabaran, ketenangan, dan keteguhan gerakan tidak dapat dipisahkan dari kekuatan ruhani tersebut.
Aktivisme yang tidak didukung oleh iman mudah berubah menjadi kelelahan. Organisasi yang kehilangan hubungan dengan Al-Qur’an dapat sibuk mengelola kegiatan, tetapi kehilangan arah yang jelas. Sebaliknya, spiritualitas yang tidak melahirkan tanggung jawab sosial juga belum mencerminkan pelajaran sirah secara utuh.
Karena itu, menguatkan kesabaran perlu dilakukan secara menyeluruh: memperdalam pengenalan kepada Allah, menghadirkan kepemimpinan yang menenteramkan, menumbuhkan kesadaran akan amanah, mengingat pertanggungjawaban di akhirat, menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan, serta memelihara harapan akan pertolongan Allah.
Majelis ilmu juga memiliki peran penting dalam ikhtiar ini. Kita tidak selalu mengetahui seberat apa ujian yang sedang dihadapi oleh orang-orang terdekat. Namun, kebersamaan dalam mengaji dapat menjadi ruang untuk saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling menjaga. Ilmu membantu seseorang melihat bahwa di balik kesulitan masih ada jalan untuk bertahan dan bergerak.
Penutup
Bab tentang faktor-faktor kesabaran dan keteguhan menjadi pengantar penting sebelum memasuki rangkaian sirah berikutnya. Perjalanan Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak serta-merta menjadi ringan setelah pertolongan dari Yatsrib. Di hadapan mereka masih terbentang hijrah, peperangan, luka, dan kehilangan. Namun, mereka telah memiliki bekal untuk melewatinya.
Kekuatan mereka bersumber dari iman kepada Allah, keteladanan Rasulullah ﷺ, kesadaran akan amanah, iman kepada akhirat, petunjuk Al-Qur’an, dan keyakinan akan pertolongan Allah. Enam bekal ini membuat kesabaran bukan sekadar kemampuan menunggu, melainkan keteguhan untuk tetap berada di jalan yang benar.
Seorang mukmin boleh bersedih, terluka, dan merasa berat. Akan tetapi, ia tidak kehilangan sandarannya. Ia bertasbih, berdoa, membaca petunjuk Allah, menunaikan tanggung jawab, serta terus memperbaiki ikhtiar. Dengan cara itulah kesabaran menjadi kekuatan yang mengantarkan manusia melewati ujian tanpa kehilangan iman dan arah perjuangan.














