Sesudah tekanan, penolakan, dan luka yang menyertai perjalanan dakwah di Makkah, Allah memperjalankan Rasulullah ﷺ dalam satu malam yang agung. Isra’ Mi’raj menguatkan hati beliau, memperlihatkan kemuliaan kedudukannya di hadapan para nabi, dan menghadirkan shalat sebagai ikatan langsung antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa syukur tidak berhenti pada ucapan, melainkan tumbuh menjadi amal yang menghidupkan iman dan menguatkan perjuangan bersama.
Rekaman Kajian
Sirah Nabawiyah Vol. 18 bersama Muhammadiyah Jerman diampu oleh Ustadz Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Pertemuan daringnya berlangsung pada Ahad, 9 Agustus 2026, pukul 08.00 CEST atau 13.00 WIB hingga selesai.
Dalam alur Ar-Rahiq al-Makhtum karya Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Isra’ Mi’raj tidak berdiri sendiri. Peristiwa ini berada dalam rangkaian sirah yang memperlihatkan bagaimana Rasulullah ﷺ menempuh ujian, menata ikhtiar, dan terus menunaikan amanah dakwah dengan pertolongan Allah.
Beramal adalah Bentuk Syukur
Surah Saba ayat 13, “I‘malu ala Dawuda syukran”—beramallah, wahai keluarga Dawud, sebagai wujud syukur—menegaskan bahwa syukur tidak cukup dipahami sebagai ucapan alhamdulillah. Syukur perlu hadir dalam bentuk perbuatan, kesediaan menjalankan kebaikan, dan ketekunan memelihara amanah.
Rasulullah ﷺ memberi teladan yang kuat. Ketika Aisyah radhiallahu ‘anha bertanya mengapa beliau tetap bersungguh-sungguh dalam shalat malam, padahal dosa beliau telah diampuni, beliau menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” Ibadah bukan beban kehidupan, tetapi jalan seorang hamba untuk menyadari nikmat Allah dan membalasnya dengan ketaatan.
Karena itu, kesempatan berbuat baik yang hadir di hadapan seseorang tidak patut ditunda-tunda. Ketika hati tergerak untuk menolong, bersedekah, menuntut ilmu, menyampaikan kebenaran, atau memperbaiki diri, dorongan itu perlu disambut dengan amal nyata. Kebaikan yang ditunda dapat hilang bersama berubahnya keadaan, padahal ia bisa menjadi jalan bertambahnya keberkahan dan ampunan Allah.
Pelajaran ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah sejak awal. Kiai Haji Ahmad Dahlan tidak berhenti pada pembacaan Surah Al-Ma‘un, tetapi mendorong murid-muridnya untuk mengamalkannya. Kedekatan kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah ﷺ mesti melahirkan manfaat bagi manusia. Dari sinilah ajaran menjadi kekuatan yang mampu bertahan melewati perubahan zaman.
Isra’ Mi’raj di Tengah Ujian Dakwah
Isra’ Mi’raj terjadi setelah Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin melalui masa yang berat. Tekanan Quraisy, penyiksaan terhadap para sahabat, pemboikotan, wafatnya Abu Thalib dan Khadijah radhiallahu ‘anha, serta penolakan di Thaif membentuk latar yang tidak mudah. Rasulullah ﷺ bahkan sempat kesulitan memasuki kembali Makkah hingga memperoleh perlindungan dari Muth‘im bin ‘Adi.
Di tengah keadaan demikian, Allah memperjalankan Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa pada waktu malam. Dari Baitul Maqdis, beliau diangkat menembus lapisan langit. Peristiwa ini menguatkan bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dengan menghapus ujian seketika. Kadang pertolongan itu hadir dengan meneguhkan hati, meninggikan pandangan, dan memberi bekal untuk meneruskan amanah.
Para ulama menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj dialami Rasulullah ﷺ dengan jasad dan ruh beliau. Keagungan peristiwa tersebut mengajarkan manusia untuk tidak menjadikan keterbatasan nalar maupun teknologi sebagai ukuran mutlak bagi kekuasaan Allah. Yang memperjalankan Rasulullah ﷺ adalah Allah; karena itu, ukuran manusia tidak dapat membatasi peristiwa luar biasa ini.
Sambutan Para Nabi dan Kemuliaan Rasulullah ﷺ
Di Masjidil Aqsa, Rasulullah ﷺ memimpin para nabi dalam shalat. Kemudian, pada setiap lapisan langit, beliau disambut oleh para nabi dengan salam dan penghormatan. Beliau bertemu Nabi Adam alaihissalam, Nabi Yahya dan Nabi Isa alaihimassalam, Nabi Yusuf alaihissalam, Nabi Idris alaihissalam, Nabi Harun alaihissalam, Nabi Musa alaihissalam, hingga Nabi Ibrahim alaihissalam di langit ketujuh.
Pertemuan-pertemuan tersebut menunjukkan kedudukan Rasulullah ﷺ dalam mata rantai risalah para nabi. Nabi Ibrahim alaihissalam menyambut beliau sebagai anak yang saleh dan nabi yang saleh. Di dekat Baitul Makmur, pusat ibadah para malaikat, Rasulullah ﷺ diperlihatkan keluasan alam yang melampaui pandangan manusia.
Di setiap pintu langit, malaikat penjaga bertanya kepada Jibril: siapa yang datang bersamanya dan apakah Muhammad ﷺ telah diutus. Pertanyaan yang berulang itu menegaskan pengakuan terhadap risalah beliau. Setelah langit ketujuh, Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan pada kedudukan yang bahkan tidak lagi ditemani Jibril. Keistimewaan ini memperlihatkan kemuliaan manusia yang menjadi teladan tertinggi bagi umat Islam.
Mengingat kemuliaan Rasulullah ﷺ melalui sirah bukanlah nostalgia. Ia menumbuhkan cinta, meneguhkan kesediaan untuk meneladani beliau, dan mengingatkan bahwa hidup terbaik ialah hidup yang paling dekat dengan petunjuk yang beliau bawa.
Shalat: Karunia yang Dibawa dari Perjalanan Agung
Salah satu karunia terbesar dalam peristiwa Mi’raj ialah diwajibkannya shalat lima waktu. Mula-mula, kewajiban shalat berjumlah lima puluh waktu, lalu Allah meringankannya menjadi lima waktu dengan nilai pahala yang tetap besar. Karena ditetapkan dalam peristiwa yang begitu agung, shalat tidak sepatutnya diperlakukan sebagai rutinitas yang dijalankan sekadarnya.
Rasulullah ﷺ memberi perhatian sangat besar terhadap shalat sepanjang hidup beliau. Beliau mengimami jamaah, mengajarkan gerakan dan bacaan, serta membimbing para sahabat agar tidak melaksanakannya dengan tergesa-gesa. Dalam sebuah riwayat, seseorang yang shalatnya belum benar diminta untuk mengulanginya sampai ia meminta diajari cara shalat yang benar. Ketelitian ini menunjukkan bahwa shalat adalah perjumpaan yang harus dijaga kualitasnya.
Taat kepada perintah Allah, termasuk menjalankan shalat wajib, merupakan bagian dari syukur. Namun, seorang muslim tidak berhenti pada pertanyaan apakah ibadahnya sekadar sah atau gugur kewajiban. Perspektif ihsan mengajak seseorang hadir dengan kesadaran, ketundukan, dan keinginan untuk mempersembahkan yang terbaik. Shalat menjadi jalan mendekat kepada Allah sekaligus latihan agar seluruh kehidupan bertumpu pada ketaatan.
Dari Iman Pribadi Menuju Umat yang Menguatkan
Surah Al-Anfal ayat 74 membuka gambaran tentang umat yang bertumbuh secara bersama-sama.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, serta orang-orang yang memberikan tempat tinggal dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Anfal [8]: 74)
Dari ayat ini, Prof. Dr. Majid Irsan al-Kilani membaca lima unsur pembentuk umat Islam yang ideal: iman, hijrah, jihad di jalan Allah, memberi tempat dan perlindungan, serta menolong. Kelima unsur tersebut disebut dalam bentuk kata kerja jamak, sehingga umat yang kuat tidak dibangun oleh kesalehan individu semata, melainkan oleh amal yang hidup secara bersama-sama.
Iman harus fungsional. Ia tampak dalam lisan yang menjaga kebaikan, dalam kepedulian kepada tetangga, dan dalam kesediaan berbagi ketika orang lain membutuhkan. Hijrah tidak hanya berarti perpindahan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah, tetapi juga keberanian meninggalkan apa yang dilarang Allah menuju kebiasaan yang lebih baik. Jihad dilakukan dalam bingkai perjuangan di jalan Allah, bukan pembalasan dendam. Adapun memberi tempat dan memberi pertolongan akan menghadirkan suasana persaudaraan yang nyata.
Gambaran itu tampak dalam kehidupan kaum Muhajirin dan Ansar di Madinah. Mereka saling menerima, memberi perlindungan, berbagi makanan, dan mendahulukan kebutuhan saudara seiman. Sirah menunjukkan bahwa masyarakat yang baik bukan masyarakat tanpa ujian, melainkan masyarakat yang membangun kekuatannya melalui iman, ilmu, akhlak, dan saling menolong.
Dalam skala keluarga, komunitas, maupun Persyarikatan Muhammadiyah, cita-cita tersebut tetap relevan. Menuntut ilmu bersama, menguatkan yang lemah, menyambut saudara dengan hangat, serta menghidupkan semangat berbagi merupakan bentuk syukur yang dapat dirasakan oleh banyak orang.
Penutup
Isra’ Mi’raj menunjukkan bahwa setelah masa yang paling berat, Allah dapat menghadirkan penguatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dipertemukan dengan para nabi, diangkat hingga kedudukan yang mulia, dan menerima kewajiban shalat sebagai bekal bagi umatnya.
Peristiwa ini mengajak setiap muslim untuk memandang shalat sebagai anugerah, bukan semata kewajiban. Ia juga mengingatkan bahwa syukur perlu menjelma menjadi amal: menjaga ibadah, segera menyambut kesempatan berbuat baik, menuntut ilmu, dan menguatkan sesama.
Ketika iman diwujudkan dalam tindakan, ketika hijrah menjadi keberanian memperbaiki diri, dan ketika kepedulian menjadi budaya bersama, umat tidak hanya mengenang sirah Rasulullah ﷺ. Umat sedang menapaki jejaknya.














