Kajian ini mengulas Amul Khuzni sebagai fase ujian terberat dalam dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah setelah pemboikotan, wafatnya Abu Thalib, dan wafatnya Khadijah. Kesedihan besar itu tidak menghentikan perjuangan, tetapi menegaskan bahwa dakwah harus bersandar pada Allah, dijaga dengan tauhid, kesabaran, keteguhan, dan ikhtiar yang terus dijalankan di tengah cobaan.
Rekaman Kajian
Kajian Sirah Nabawiyah dengan tema “Aamul Huzni: Tahun Ujian Keteguhan” diselenggarakan secara daring pada 14 Juni 2026. Kajian ini menghadirkan Ust. Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Dalam pemaparannya, beliau mengulas salah satu fase paling berat dalam sejarah dakwah Islam, yaitu Amul Khuzni atau Tahun Kesedihan, yakni tahun ke-10 setelah kenabian. Dalam kajian Sirah Nabi yang disampaikan Ustaz Arif, peristiwa ini dipahami bukan sekadar sebagai kisah kesedihan, melainkan sebagai ujian keteguhan yang mengajarkan bahwa perjuangan dakwah harus senantiasa bersandar pada Allah, bukan pada manusia.
Amul Khuzni dalam Rangkaian Dakwah di Makkah
Kajian ini menempatkan Amul Khuzni dalam kronologi dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Setelah tiga tahun berdakwah secara sembunyi-sembunyi, dakwah dilakukan secara terbuka sehingga tekanan dari kaum Quraisy semakin meningkat. Berbagai bentuk penyiksaan, pemboikotan, hingga pengasingan terhadap Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin menjadi bagian dari perjuangan dakwah pada masa itu.
Sebelum memasuki Amul Khuzni, Rasulullah ﷺ bersama Bani Hasyim mengalami pemboikotan selama sekitar 3 tahun. Dalam masa yang berat tersebut, kaum muslimin mengalami kekurangan makanan hingga, sebagaimana diriwayatkan, harus bertahan hidup dengan memakan dedaunan. Peristiwa ini menjadi gambaran besarnya ujian yang dihadapi Rasulullah ﷺ dan para sahabat, sekaligus teladan kesabaran dalam menghadapi cobaan.
Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah
Setelah pemboikotan berakhir, kondisi Abu Thalib yang sudah lanjut usia semakin melemah. Dalam kajian disebutkan bahwa Abu Thalib wafat pada tahun ke-10 kenabian, setelah sebelumnya tetap memberikan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ hingga akhir hayatnya. Meski demikian, Rasulullah ﷺ sangat berduka karena pamannya wafat tanpa sempat menerima ajakan untuk mengucapkan kalimat tauhid. Peristiwa ini juga menjadi latar belakang turunnya ayat yang menegaskan bahwa hidayah merupakan hak prerogatif Allah.
Beberapa bulan kemudian, Rasulullah ﷺ kembali diuji dengan wafatnya Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha. Khadijah merupakan pendamping setia yang selalu menguatkan Rasulullah ﷺ sejak awal kenabian. Rasulullah ﷺ senantiasa mengenang jasa dan kemuliaan Khadijah, bahkan disebutkan adanya kabar gembira yang disampaikan Malaikat Jibril tentang rumah di surga yang telah Allah siapkan baginya.
Dua kehilangan besar inilah yang menjadikan tahun tersebut dikenal sebagai Amul Khuzni.
Keteguhan Dakwah Tidak Bergantung kepada Manusia
Salah satu pesan utama dari Aamul Khuzni adalah bahwa dakwah tidak boleh bergantung pada siapa pun selain Allah. Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah menjadi pelajaran bahwa sekalipun Rasulullah ﷺ kehilangan dua sosok yang sangat dekat dan selama ini memberikan dukungan besar, perjuangan dakwah tidak berhenti.
Sebelum Abu Thalib wafat, para pemuka Quraisy masih berusaha membujuk Rasulullah ﷺ agar menghentikan dakwahnya. Berbagai tawaran duniawi pernah diberikan sebelumnya, mulai dari harta, kedudukan, hingga kompromi dalam urusan akidah. Namun, Rasulullah ﷺ tetap teguh dan justru mengajak mereka kepada satu kalimat, yaitu “La ilaha illallah”, sebagai jalan menuju kemuliaan. Keteguhan ini menunjukkan bahwa prinsip tauhid tidak dapat ditukar dengan kepentingan apa pun.
Kesedihan Tidak Menghentikan Ikhtiar
Aamul Huzni ini juga menunjukkan bahwa kesedihan bukan alasan untuk berhenti berjuang. Setelah mengalami kehilangan besar, Rasulullah ﷺ tetap mencari jalan untuk berdakwah. Salah satunya adalah menuju Thaif untuk menyampaikan risalah Islam. Walaupun di sana beliau kembali mengalami penolakan dan perlakuan kasar hingga terluka akibat lemparan batu, Rasulullah ﷺ tetap menunjukkan kesabaran dan tidak membalas dengan kebencian.
Sikap ini menjadi teladan bahwa seorang mukmin tetap berikhtiar menjalankan amanah meskipun menghadapi ujian yang berat.
Pelajaran bagi Umat
Dari peristiwa Amul Khuzni, terdapat beberapa pelajaran penting. Pertama, ujian merupakan bagian dari perjalanan orang-orang beriman, bahkan dialami oleh manusia terbaik, Rasulullah ﷺ. Kedua, kesabaran dan keteguhan menjadi bekal utama dalam menghadapi cobaan. Ketiga, perjuangan dakwah harus selalu bertumpu pada Allah, bukan pada kekuatan manusia maupun pada keadaan yang menguntungkan. Terakhir, setiap ujian hendaknya mendorong seorang mukmin untuk terus berikhtiar dan memperkuat keimanan, bukan menjadi alasan untuk berhenti beramal.
Dengan demikian, Amul Khuzni bukan hanya kisah tentang kesedihan Rasulullah ﷺ, tetapi juga tentang keteguhan hati dalam menjalankan amanah. Dari fase inilah tampak bahwa jalan dakwah senantiasa diiringi ujian, namun pertolongan Allah menjadi sandaran utama bagi setiap perjuangan.
- Aditya Satrya Wibawa Utama














