Kajian ini mengaitkan keutamaan Zulhijah dengan pendidikan takwa, kurban, dan kesabaran dalam dakwah. Dari kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Hamzah, dan Umar bin Khattab, tampak bahwa pertolongan Allah sering datang setelah ketundukan, doa, dan keteguhan dalam menjaga kebenaran, bahkan melalui jalan yang tidak pernah disangka manusia dalam perjalanan iman umat Islam.
Rekaman Kajian
Dalam kajian Sirah Nabawiyah online yang diselenggarakan oleh PCIM Jerman pada hari Ahad, 17 Mei 2026, Ust. Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, mengajak jamaah untuk menyelami momentum istimewa menjelang bulan Zulhijah serta mengambil pelajaran berharga dari perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, khususnya peristiwa masuk Islamnya dua tokoh besar, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma.
Keutamaan Menjelang Zulhijah
Menjelang datangnya bulan Zulhijah, seorang Muslim diajak untuk memandang waktu dengan lebih serius. Zulhijah termasuk bulan haram yang dimuliakan Allah, sekaligus memuat hari-hari agung yang menjadi kesempatan besar untuk memperbanyak amal saleh.
Sepuluh hari pertama Zulhijah memiliki kedudukan istimewa. Pada hari-hari itulah amal saleh sangat dicintai oleh Allah. Maka menyambut Zulhijah bukan hanya soal menunggu Hari Raya Iduladha, tetapi juga soal menyiapkan hati, memperkuat iman, menambah ilmu, dan memperbanyak amal sebagai bentuk kesungguhan untuk mendekat kepada Allah.
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ.
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Zulhijah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali membawa apa pun dari keduanya.” (HR. Bukhari)
Di antara ibadah besar pada bulan ini adalah kurban. Namun kurban tidak boleh dipahami hanya sebagai penyembelihan hewan. Tujuan terdalamnya adalah membangun ketakwaan. Yang sampai kepada Allah bukanlah daging atau darah kurban, melainkan keikhlasan, ketaatan, dan ketundukan hati seorang hamba.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj: 37)
“Aku adalah Anak dari Dua Orang yang Disembelih”
Zulhijah bukan hanya mengingatkan umat Islam tentang ibadah haji dan kurban, tetapi juga tentang jejak panjang ketundukan keluarga para nabi. Di bulan ini, kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam kembali hadir sebagai cermin: ketaatan kepada Allah sering kali menuntut kesabaran, keikhlasan, dan kesiapan untuk menyerahkan sesuatu yang paling dicintai.
Dalam salah satu ungkapan yang masyhur, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ana ibnu zabihain” (Aku adalah anak dari dua orang yang disembelih).
Ungkapan ini merujuk kepada dua peristiwa besar dalam silsilah Rasulullah ﷺ. Pertama, Nabi Ismail ‘alaihissalam, putra Nabi Ibrahim, menerima perintah Allah dengan penuh kepasrahan. Kedua, Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rasulullah ﷺ, hampir menjadi korban nazar Abdul Muthalib sebelum akhirnya diganti dengan seratus ekor unta.
Dua kisah ini memperlihatkan satu garis nilai yang sama: keluarga Nabi dibentuk oleh kesabaran dan kepatuhan kepada Allah. Nabi Ibrahim tidak meletakkan cintanya kepada anak di atas perintah Allah. Nabi Ismail tidak menjadikan usianya yang masih muda sebagai alasan untuk menolak ketaatan. Abdullah pun berada dalam rangkaian takdir yang menunjukkan bahwa Allah menjaga garis kenabian dengan hikmah.
Maka kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan. Ia mendidik hati agar rela tunduk kepada Allah, melatih keluarga agar terbiasa hidup berdasarkan nilai-nilai iman, dan mengingatkan bahwa generasi besar lahir dari rumah-rumah yang menanamkan kesabaran.
Dakwah yang Berat dan Penguatan dari Allah
Nilai kesabaran itu juga tampak jelas dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Setelah tiga tahun berdakwah secara terbatas, Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk menyampaikan risalah secara terbuka kepada masyarakat Makkah. Sejak saat itu, tekanan kaum Quraisy semakin meningkat. Hinaan, ancaman, dan penganiayaan menjadi bagian dari jalan dakwah yang harus dihadapi oleh Nabi dan para sahabat.
Namun, di tengah tekanan itu, Allah menurunkan penguatan melalui ayat-ayat-Nya. Kandungan Surah Al-Kahfi, misalnya, menghadirkan kisah Ashabul Kahfi, Nabi Musa dan Khidir, serta kisah Dzulqarnain. Ketiganya mengajarkan bahwa pertolongan Allah sering hadir melalui jalan yang tidak segera terlihat oleh mata manusia. Ada pemuda-pemuda yang diselamatkan di dalam gua. Ada ilmu Allah di balik peristiwa yang tampak membingungkan. Ada kekuasaan yang digunakan untuk menegakkan kebaikan.
Dari sini tampak bahwa kesabaran adalah keteguhan untuk tetap berjalan di atas kebenaran, meskipun hasilnya belum terlihat dan tekanan belum reda.
Keislaman Hamzah: Awal Penguatan Dakwah
Salah satu bentuk pertolongan Allah datang melalui masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib. Peristiwa itu bermula ketika Abu Jahal menghina dan menyakiti Rasulullah ﷺ di dekat Bukit Shafa. Nabi memilih diam dan bersabar menghadapi perlakuan tersebut. Kesabaran beliau bukan kelemahan, melainkan akhlak kenabian yang tidak mudah diseret oleh kemarahan musuh.
Kabar penghinaan itu kemudian sampai kepada Hamzah yang baru pulang dari berburu. Sebagai paman Nabi dan tokoh yang disegani di Makkah, Hamzah tidak menerima perlakuan Abu Jahal terhadap keponakannya. Ia mendatangi Abu Jahal, menegurnya dengan keras, lalu menyatakan bahwa ia mengikuti agama yang dibawa Muhammad ﷺ.
Masuk Islamnya Hamzah menjadi titik penting dalam dakwah Islam. Kaum Muslimin yang sebelumnya berada dalam tekanan berat memperoleh kekuatan moral baru. Kehadiran Hamzah menunjukkan bahwa Allah dapat menghadirkan pembela kebenaran dari arah yang tidak terduga. Orang yang sebelumnya belum tampak berada di barisan Islam, melalui satu peristiwa, dapat berubah menjadi pembela Islam yang kokoh.
Umar bin Khattab dan Buah Kesabaran Dakwah
Tidak lama setelah keislaman Hamzah, Allah kembali menghadirkan pertolongan besar melalui masuk Islamnya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Peristiwa ini menunjukkan bahwa hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah. Hati yang tampak keras di hadapan manusia dapat luluh ketika Allah membukakan pintu petunjuk.
Umar dikenal sebagai sosok yang keras menentang Islam. Namun, di balik sikap keras itu, hatinya mulai tersentuh oleh keteguhan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Bacaan Al-Qur’an yang pernah ia dengar, khususnya Surah Al-Haqqah, meninggalkan bekas dalam jiwanya. Kebenaran tidak selalu langsung diterima, tetapi ia dapat terus mengetuk hati seseorang sampai tiba saat Allah membukanya.
Puncaknya terjadi ketika Umar mendatangi rumah adiknya, Fatimah binti Khattab, yang telah memeluk Islam. Di sana ia membaca ayat-ayat Surah Thaha. Ayat-ayat itu mengguncang hatinya. Kemarahan yang semula menguasai dirinya berubah menjadi ketundukan di hadapan kalam Allah.
Pada saat itulah Khabbab bin Al-Aratt menyampaikan kabar yang sangat menyentuh. Beberapa hari sebelumnya Rasulullah ﷺ berdoa:
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam.”
Doa itu menunjukkan luasnya harapan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak hanya melihat manusia dari kebenciannya hari ini, tetapi juga dari kemungkinan hidayah yang dapat Allah tanamkan esok hari. Umar kemudian menemui Rasulullah ﷺ di Darul Arqam. Di hadapan beliau, Umar mengucapkan syahadat.
Takbir para sahabat bergema hingga terdengar di sekitar Masjidil Haram. Keislaman Umar menjadi tonggak penting yang semakin memperkuat posisi kaum muslimin di Makkah. Dakwah yang sebelumnya dijalani dalam tekanan berat kini mendapatkan tambahan kekuatan dari sosok yang dahulu ditakuti kaum muslimin.
Ketabahan Menghadirkan Pertolongan dari Jalan yang Tidak Disangka-Sangka
Kisah Hamzah dan Umar mengajarkan satu pelajaran besar: pertolongan Allah sering kali datang setelah kesabaran dan keteguhan dalam memegang kebenaran. Rasulullah ﷺ menghadapi penghinaan, tekanan, bahkan ancaman pembunuhan tanpa kehilangan keyakinan kepada Allah. Beliau tetap berdakwah, tetap berdoa, dan tetap menjaga akhlak.
Dari kesabaran itulah Allah menghadirkan berbagai pertolongan yang tidak disangka-sangka. Hamzah masuk Islam setelah peristiwa penghinaan terhadap Nabi. Umar masuk Islam setelah sebelumnya dikenal sebagai penentang yang keras. Dua tokoh besar itu kemudian menjadi pilar kekuatan umat.
Menjelang datangnya Zulhijah, pelajaran ini terasa sangat relevan. Bulan ini mengajarkan ketakwaan, pengorbanan, dan kesabaran. Amal saleh diperbanyak bukan hanya sebagai rutinitas musiman, tetapi sebagai latihan untuk menjadi hamba yang lebih tunduk kepada Allah. Kurban dikerjakan bukan hanya sebagai penyembelihan, tetapi sebagai pendidikan hati agar rela mendahulukan perintah Allah.
Orang yang bertakwa mungkin belum melihat jalan keluar hari ini. Tetapi ia percaya bahwa Allah tidak menyia-nyiakan kesabaran. Sebagaimana Rasulullah ﷺ memperoleh pertolongan melalui keislaman Hamzah dan Umar, demikian pula setiap hamba yang menjaga ketakwaan akan mendapatkan pertolongan Allah pada waktu yang Dia kehendaki.
- Ditulis oleh Aditya Satrya Wibawa Utama














