Perjalanan dakwah Rasulullah saw. memiliki tahapan-tahapan. Pada fase paling awal, dakwah tidak langsung diumumkan kepada publik Makkah. Rasulullah saw. memulai dari lingkaran terdekat, orang-orang yang mengenal kejujuran beliau, dan pribadi-pribadi yang siap menerima kebenaran. Fase ini biasa disebut dakwah sirriyah.
Rekaman Kajian
Artikel ini disarikan dan dikembangkan dari Kajian Sirah Nabawiyah Muhammadiyah Jerman yang disampaikan melalui Zoom pada Ahad, 3 Mei 2026, oleh Ust. Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I., anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah sekaligus dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Peta 23 Tahun Dakwah Rasulullah
Di sinilah letak salah satu pelajaran penting bagi gerakan Islam. Dakwah membutuhkan keberanian, tetapi keberanian tidak identik dengan tergesa-gesa. Dakwah juga membutuhkan strategi, pembacaan situasi, dan penyiapan kader agar risalah tetap hidup dan bertumbuh.
Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri membagi perjalanan dakwah Rasulullah saw. selama kurang lebih 23 tahun ke dalam dua fase besar. Pertama, fase Makkah yang berlangsung sekitar 13 tahun. Kedua, fase Madinah yang berlangsung 10 tahun penuh.
Fase Makkah sendiri terbagi lagi menjadi tiga periode. Periode pertama adalah dakwah sirriyah selama kurang lebih tiga tahun. Periode kedua adalah dakwah terbuka di tengah penduduk Makkah, dimulai sejak awal tahun keempat kenabian hingga sekitar akhir tahun kesepuluh. Periode ketiga adalah dakwah yang mulai meluas ke luar kota Makkah, berlangsung sejak akhir tahun kesepuluh kenabian hingga hijrah ke Madinah.
Bagi Muhammadiyah, yang namanya dinisbahkan kepada Rasulullah Muhammad saw., pembacaan seperti ini penting. Mengikuti Nabi bukan hanya mencintai beliau secara emosional, tetapi juga belajar dari cara beliau membangun manusia, mengelola dakwah, menghadapi realitas sosial, dan menegakkan risalah secara bertahap.
Al-Qur’an sebagai Fondasi Gerakan
Sebelum masuk pada rincian dakwah sirriyah, kajian ini mengingatkan kembali empat ayat yang menjelaskan tugas utama Rasulullah saw.: QS. Al-Baqarah: 129, QS. Al-Baqarah: 151, QS. Ali Imran: 164, dan QS. Al-Jumu’ah: 2. Dari ayat-ayat itu tampak empat pilar dakwah Nabi: membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, mengajarkan Al-Kitab, dan mengajarkan Al-Hikmah.
Al-Kitab dalam penjelasan para ulama merujuk kepada Al-Qur’an, sedangkan Al-Hikmah merujuk kepada sunah Rasulullah saw. Dari sini terlihat bahwa umat ini dibangun dengan wahyu, ilmu, penyucian jiwa, dan keteladanan Nabi. Dakwah bukan sekadar ajakan moral, melainkan proses pendidikan yang menyentuh akidah, ibadah, akhlak, ilmu, dan orientasi hidup.
Wahyu pertama yang turun juga menegaskan hal tersebut:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan; Dia menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Lima ayat pertama ini menunjukkan bahwa kebangkitan umat dimulai dari ilmu. Ilmu itu bersumber dari wahyu, diturunkan kepada Rasulullah saw., lalu diajarkan kepada manusia. Karena itu, dakwah Rasulullah saw. sejak awal tidak dapat dilepaskan dari qiraah, tilawah, dan tadabur: membaca Al-Qur’an dengan benar, mengikuti petunjuknya, dan merenungkan maknanya sampai melahirkan amal.
Rasulullah saw. juga tidak bertindak berdasarkan hawa nafsu. Setiap langkah besar dalam dakwah beliau berada dalam bimbingan wahyu.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Ia tidak berbicara menurut hawa nafsu. Yang disampaikannya tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan. (QS. An-Najm: 3-4)
Dengan demikian, dakwah sirriyah merupakan bagian dari hikmah kenabian: memulai dari fondasi iman, ilmu, dan pembinaan orang-orang pertama yang kelak memikul beban dakwah.
Mengapa Makkah Menjadi Medan yang Berat
Makkah pada masa itu adalah pusat keagamaan bangsa Arab. Di sana berdiri Ka’bah, rumah suci yang jejaknya kembali kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam. Namun pada saat yang sama, Makkah juga telah dipenuhi berhala yang disucikan oleh berbagai kabilah Arab.
Dalam lintasan sejarah, ajaran tauhid yang ditinggalkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengalami perubahan panjang. Pada masa tertentu, Amr bin Luhay dari Khuza’ah dikenal sebagai tokoh yang membawa berhala dari Syam ke Makkah. Sejak saat itu, penyembahan berhala semakin mengakar di Jazirah Arab.
Karena Makkah adalah pusat keagamaan dan pusat kepentingan sosial-politik Quraisy, memperbaiki masyarakat dari inti kota itu bukan perkara ringan. Perubahan dari luar akan sangat sulit. Perbaikan harus dimulai dari dalam, dari pusat masyarakat, dari orang-orang yang hidup di tengah realitas itu sendiri.
Usaha seperti ini membutuhkan tekad yang tidak mudah diguncang. Dakwah kepada tauhid berarti menyentuh keyakinan, tradisi leluhur, kedudukan sosial, ekonomi haji, dan otoritas para pemuka Quraisy. Karena itu, memulai dakwah secara privat kepada orang-orang terdekat adalah langkah yang sangat bijaksana.
Lingkaran Pertama yang Menerima Islam
Rasulullah saw. memulai dakwah dari orang-orang terdekat. Orang pertama yang menerima Islam adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid ra., istri beliau yang paling mengenal kejujuran, ketulusan, dan kemuliaan akhlak Rasulullah saw.
Setelah itu, termasuk generasi paling awal yang menerima Islam adalah Zaid bin Haritsah ra., yang berada dalam pengasuhan Rasulullah saw.; Ali bin Abi Thalib ra., sepupu beliau yang saat itu masih belia dan hidup dalam tanggungan Nabi; serta Abu Bakar ash-Shiddiq ra., sahabat paling dekat Rasulullah saw.
Keempat pribadi ini menunjukkan bahwa dakwah pertama kali tumbuh dari rumah, keluarga, dan persahabatan yang paling terpercaya. Khadijah ra. memberi dukungan batin dan keyakinan. Zaid ra. menerima Islam dari lingkungan rumah Nabi. Ali ra. menjadi gambaran pentingnya pembinaan generasi muda. Abu Bakar ra. menjadi contoh sahabat yang tidak hanya menerima kebenaran, tetapi segera bergerak mengajak orang lain.
Peran Abu Bakar sangat menonjol. Ia dikenal sebagai orang yang jujur, dermawan, berakhlak baik, memiliki hubungan sosial yang luas, dan dipercaya masyarakat. Dari dakwah Abu Bakar, masuk Islam beberapa tokoh besar generasi awal, di antaranya Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu anhum.
Di sini tampak kaidah penting: sebelum seseorang mengajak orang lain kepada kebaikan, integritas dirinya memiliki pengaruh besar. Abu Bakar memiliki kredibilitas. Orang percaya kepada dakwahnya karena mereka telah mengenal keluhuran pribadinya.
Darul Arqam dan Kaderisasi Awal Islam
Di antara nama penting dalam fase dakwah sirriyah adalah Arqam bin Abil Arqam ra. Rumahnya menjadi tempat berkumpul dan pembinaan kaum muslimin awal. Dari rumah inilah dakwah memperoleh ruang yang relatif aman untuk belajar, menguatkan iman, dan menyusun langkah.
Arqam berasal dari Bani Makhzum, kabilah yang juga melahirkan Abu Jahal, salah satu tokoh paling keras yang memusuhi Rasulullah saw. Justru karena itu, rumah Arqam memiliki posisi yang unik. Ia tidak langsung dicurigai sebagai pusat pertemuan pengikut Nabi. Arqam juga masih sangat muda, tetapi rumahnya menjadi salah satu titik penting dalam sejarah kaderisasi Islam.
Nama Arqam kemudian hidup dalam tradisi pembinaan Muhammadiyah melalui istilah Baitul Arqam. Ini bukan sekadar nama program. Ia mengingatkan bahwa gerakan Islam membutuhkan tempat pembinaan, suasana belajar, kedisiplinan, persaudaraan, dan kader-kader yang ditempa dengan ilmu serta iman.
Dakwah sirriyah, karena itu, tidak boleh dipahami sebagai masa pasif. Justru pada masa ini fondasi manusia dibangun. Orang-orang awal dibina dengan wahyu. Mereka belajar tauhid, membersihkan keyakinan dari syirik, memperbaiki orientasi hidup, dan mulai menjalankan ibadah sesuai tuntunan yang sampai kepada mereka.
Sirriyah Bukan Takut, Tetapi Tidak Mengumumkan
Salah satu catatan penting dalam kajian adalah pemaknaan istilah dakwah sirriyah. Jika diterjemahkan secara sederhana sebagai “dakwah sembunyi-sembunyi”, bisa muncul kesan bahwa Rasulullah saw. berdakwah karena takut. Padahal yang dimaksud bukanlah bersembunyi dalam arti pengecut atau menghindari tanggung jawab.
Dakwah sirriyah adalah dakwah yang belum diumumkan secara publik. Ia bersifat personal, privat, dan fardiyah. Rasulullah saw. mengajak orang per orang, terutama mereka yang memiliki kedekatan, kepercayaan, dan kesiapan menerima kebenaran. Pada saat yang sama, sebagian kabar tentang dakwah beliau telah sampai kepada Quraisy secara global.
Perbedaan ini penting. Ada masa ketika dakwah harus dilakukan melalui pembinaan kecil, percakapan personal, dan penguatan internal. Ada pula masa ketika dakwah harus dinyatakan secara terbuka. Keduanya bukan pertentangan. Keduanya adalah bagian dari tahapan dakwah yang diatur dengan hikmah.
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dapat mengambil pelajaran dari sini. Ada kerja-kerja dakwah yang tampak di ruang publik: ceramah, pendidikan, layanan sosial, media, dan advokasi. Namun ada pula kerja-kerja yang tidak selalu terlihat: pembinaan kader, pendampingan personal, penguatan keluarga, halaqah ilmu, pelatihan mubalig, dan konsolidasi jamaah. Tanpa kerja yang tidak selalu tampak itu, dakwah publik mudah kehilangan akar.
Dari Privat Menuju Terang-Terangan
Setelah kurang lebih tiga tahun, turun perintah Allah agar Rasulullah saw. memberi peringatan kepada kerabat terdekat:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (QS. Asy-Syu’ara: 214)
Ayat ini menjadi penanda dimulainya fase dakwah yang lebih terbuka, dimulai dari keluarga besar Rasulullah saw. Beliau mengumpulkan kerabat-kerabat beliau dari Bani Hasyim dan keluarga dekat. Dalam pertemuan pertama, sebelum Rasulullah saw. menyampaikan maksudnya, Abu Lahab lebih dulu berbicara dan menekan beliau. Ia memperingatkan bahwa keluarga mereka tidak akan sanggup menghadapi seluruh bangsa Arab jika ajaran Nabi menimbulkan pertentangan besar.
Rasulullah saw. diam. Beliau tidak membalas, tidak memaksakan diri untuk berbicara, dan tidak mengubah majelis itu menjadi pertengkaran. Pertemuan pertama bubar tanpa beliau menyampaikan dakwahnya.
Kemudian Rasulullah saw. mengundang mereka kembali. Pada pertemuan kedua, beliau segera menyampaikan risalah. Beliau menegaskan bahwa beliau adalah utusan Allah kepada kerabatnya secara khusus dan kepada manusia secara umum. Beliau mengingatkan tentang kematian, kebangkitan, hisab, surga, dan neraka.
Respons keluarga besar beliau terbelah. Abu Thalib menunjukkan simpati dan menyatakan akan melindungi Rasulullah saw., meskipun ia tetap berada di atas agama Abdul Muthalib. Sebaliknya, Abu Lahab menolak keras. Dari sinilah ketegangan dalam keluarga besar Bani Hasyim mulai tampak jelas.
Peristiwa ini memperlihatkan betapa beratnya jalan dakwah Rasulullah saw. Penentangan tidak hanya datang dari orang jauh, tetapi juga dari keluarga dekat. Dalam perjalanan berikutnya, tekanan terhadap Nabi bahkan datang dari paman beliau sendiri dan istrinya, Ummu Jamil. Gangguan fisik, penghinaan, pelemparan kotoran, dan permusuhan sosial menjadi bagian dari ujian yang harus beliau hadapi.
Kesabaran Rasulullah saw. dalam pertemuan pertama memberi pelajaran besar. Tidak setiap provokasi harus langsung dijawab. Tidak setiap majelis harus dimenangkan dengan suara paling keras. Ada saatnya seorang dai menahan diri, menjaga tujuan, lalu mencari kesempatan yang lebih tepat untuk menyampaikan kebenaran.
Bekal Da’i dari Surah Asy-Syu’ara
Perintah dalam QS. Asy-Syu’ara: 214 tidak berdiri sendiri. Surah Asy-Syu’ara memuat kisah para nabi dan kaum mereka: Nabi Musa, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan penduduk Aikah. Di dalamnya tergambar pola dakwah, penolakan, ancaman, kesabaran, dan pertolongan Allah.
Karena itu, ketika Rasulullah saw. menerima perintah untuk memperingatkan kerabat terdekat, Al-Qur’an juga telah memberikan bekal naratif tentang risiko dakwah. Para dai tidak berjalan di ruang kosong. Mereka meneruskan jalan para nabi yang menghadapi penolakan, cemoohan, tekanan keluarga, tekanan penguasa, dan ancaman masyarakat.
Membaca sirah bersama Al-Qur’an membuat kita tidak hanya mengetahui kronologi. Kita juga menangkap hikmah di balik peristiwa. Sirah menunjukkan bagaimana wahyu dijalankan dalam sejarah. Al-Qur’an memberi bingkai makna, arah, dan keteguhan.
Relevansi bagi Dakwah Muhammadiyah
Dakwah sirriyah memberi sejumlah pelajaran penting bagi Muhammadiyah hari ini.
Pertama, dakwah harus berangkat dari ilmu. Wahyu pertama adalah perintah membaca. Tugas Rasulullah saw. adalah membacakan ayat, menyucikan jiwa, dan mengajarkan Kitab serta Hikmah. Karena itu, gerakan dakwah Muhammadiyah perlu terus menguatkan tradisi ilmu: membaca, mengkaji, menulis, mengajar, dan membina umat dengan dasar yang kokoh.
Kedua, dakwah membutuhkan tahapan. Tidak semua hal harus dilakukan sekaligus. Ada masa menyiapkan kader, ada masa memperkuat jamaah, ada masa memperluas dakwah, dan ada masa membangun institusi. Gerakan yang ingin bertahan panjang harus memahami ritme ini.
Ketiga, dakwah dimulai dari lingkaran terdekat. Rumah, keluarga, sahabat, komunitas kecil, dan jamaah inti adalah medan dakwah pertama. Kekuatan umat tidak hanya dibentuk dari panggung besar, tetapi dari hubungan-hubungan dekat yang dibina dengan iman dan akhlak.
Keempat, integritas dai sangat menentukan. Abu Bakar ra. diterima karena dikenal sebagai pribadi yang jujur, baik, dermawan, dan terpercaya. Di tengah masyarakat modern yang kritis, mubalig Muhammadiyah juga membutuhkan kredibilitas moral, kecakapan ilmu, dan keteladanan sosial.
Kelima, pembinaan kader muda harus diperkuat. Arqam bin Abil Arqam menunjukkan bahwa anak muda dapat memikul peran strategis dalam dakwah. Rumahnya menjadi pusat pembinaan awal Islam. Semangat Baitul Arqam dalam Muhammadiyah harus terus menjadi ruang kaderisasi yang serius.
Keenam, dakwah harus siap menghadapi penolakan. Rasulullah saw. ditentang oleh sebagian keluarga dekatnya sendiri. Seorang dai tidak boleh rapuh ketika kebaikan disalahpahami. Namun keteguhan itu harus tetap disertai adab, kesabaran, dan kemampuan memilih waktu yang tepat.
Ketujuh, dakwah publik perlu ditopang kerja privat yang kuat. Ceramah, media, pengajian besar, dan program sosial adalah wajah yang terlihat. Di balik itu, harus ada pembinaan kecil, penguatan jamaah, pendampingan personal, pelatihan dai, dan pengorganisasian yang rapi.
Penutup
Dakwah sirriyah adalah fase awal yang menentukan dalam sejarah Islam. Dari rumah Rasulullah saw., dari keimanan Khadijah ra., dari ketulusan Ali dan Zaid, dari gerak Abu Bakar, dan dari rumah Arqam, tumbuh generasi pertama yang kelak mengubah sejarah.
Fase ini mengajarkan bahwa dakwah tidak dibangun dengan ketergesaan. Ia dimulai dengan wahyu, ilmu, penyucian jiwa, integritas, kedekatan personal, dan kaderisasi yang sabar. Ketika waktunya tiba, dakwah bergerak dari ruang privat menuju ruang publik dengan kesiapan yang lebih matang.
Bagi Muhammadiyah, pelajaran ini sangat dekat. Menjadi pengikut Muhammad saw. berarti meneladani cara beliau membangun umat: memulai dari ilmu, meneguhkan tauhid, membina manusia, menguatkan kader, membaca realitas, dan terus bergerak dengan hikmah. Dari fase yang tampak kecil dan senyap, Allah menumbuhkan perubahan besar bagi umat manusia.
- Ditulis oleh: Aditya Satrya Wibawa Utama














