Muhammadiyah Jerman kembali menyelenggarakan kajian rutin menjelang akhir Ramadan dengan tema “Keteladanan Keluarga Nabi Muhammad SAW”. Kajian ini disampaikan oleh Ustaz Hartanto Saryono, Lc., Al-Hafidz, dan dihadiri oleh masyarakat Muslim Indonesia di Jerman yang antusias mengikuti hingga sesi tanya jawab.
Kajian dibuka dengan tilawah Surah Al-Ahzab ayat 31–32 yang menekankan kemuliaan dan tanggung jawab keluarga Nabi sebagai teladan bagi umat:
وَمَنْ يَّقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُّؤْتِهَآ اَجْرَهَا مَرَّتَيْنِۙ وَاَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيْمًا (٣١)
يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًا (٣٢)
“Dan barang siapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan kebajikan, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia. Wahai istri-istri Nabi, kamu tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan yang baik.”
Rasulullah sebagai Teladan Utama
Dalam pemaparannya, Ustaz Hartanto menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan sempurna dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan keluarga. Akhlak beliau merupakan implementasi nyata dari Al-Qur’an, sebagaimana disampaikan oleh Aisyah RA bahwa “akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an”.
Sebagai manusia, Rasulullah juga menghadapi dinamika rumah tangga seperti halnya keluarga lainnya. Namun, seluruh sikap dan keputusan beliau selalu berada dalam bimbingan wahyu, sehingga menjadi pedoman yang relevan sepanjang zaman.
Visi Keluarga dalam Islam
Kajian ini menekankan bahwa tujuan utama membangun keluarga dalam Islam adalah sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Dengan demikian, visi keluarga bukan hanya kebahagiaan dunia, tetapi keselamatan akhirat. Keluarga juga memiliki misi sebagai sarana dakwah melalui keteladanan.
Prinsip-Prinsip Pendidikan dalam Keluarga Nabi
Ustaz Hartanto merangkum beberapa prinsip utama dalam membangun keluarga teladan berdasarkan kehidupan Rasulullah SAW:
1. Keteladanan (Uswah Hasanah)
Pendidikan terbaik dimulai dari contoh nyata. Rasulullah tidak hanya memerintah, tetapi juga mengamalkan langsung dalam kehidupan sehari-hari, seperti membantu pekerjaan rumah tangga dan melayani keluarga dengan penuh kerendahan hati.
Ustaz Hartanto menyampaikan bahwa Rasulullah SAW menjahit pakaian beliau sendiri, memerah susu, serta membantu pekerjaan rumah tangga tanpa merasa direndahkan sebagai kepala keluarga.
2. Kasih Sayang dan Kelembutan
Rasulullah dikenal sangat lembut terhadap keluarga, termasuk anak-anak. Beliau menunjukkan kasih sayang secara nyata, baik melalui ucapan maupun tindakan. Prinsip ini menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat dalam keluarga.
Rasulullah mencium cucunya Hasan dan Husain, serta menegaskan bahwa “barang siapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” Beliau juga menegur anak kecil dengan lembut, seperti mengajarkan adab makan: membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, dan mengambil makanan dari yang terdekat.
3. Penguatan Akidah dan Menjaga Fitrah
Penanaman tauhid menjadi dasar utama pendidikan keluarga. Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan orang tua memiliki peran besar dalam menjaga serta mengarahkannya.
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari no. 1358; Muslim no. 2658).
Karena itu, pendidikan tauhid harus dimulai sejak dini agar fitrah anak tetap terjaga dari penyimpangan.
4. Pendidikan Ibadah Secara Bertahap
Rasulullah mengajarkan ibadah secara bertahap sesuai usia anak, seperti perintah shalat sejak usia tujuh tahun. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya proses dan pembiasaan dalam pendidikan.
Nabi SAW memerintahkan orang tua untuk menyuruh anak shalat di usia tujuh tahun, dan menegaskan disiplin di usia sepuluh tahun, serta memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari pendidikan bertahap.
5. Pendidikan Akhlak dan Adab
Akhlak merupakan puncak dari pendidikan. Rasulullah menanamkan adab dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari cara makan hingga interaksi sosial.
Rasulullah mengajarkan adab secara praktis dalam keseharian, seperti cara makan yang benar dan menjaga lisan. Bahkan, dalam kajian disebutkan bahwa mendidik anak dengan adab lebih utama daripada sedekah, karena adab menjadi fondasi perilaku sepanjang hidup.
Menjawab Tantangan Keluarga di Era Modern
Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti tantangan membangun keluarga Islami di tengah lingkungan non-Muslim seperti di Jerman. Ustaz Hartanto menegaskan bahwa kunci menjaga keimanan keluarga adalah keteladanan yang konsisten (dakwah bil hal), kedekatan emosional, dan komunikasi yang tepat sasaran. Rasulullah membangun kedekatan dengan anak-anak dan keluarganya sehingga lahir kepercayaan penuh; dari sinilah perintah dan nilai agama mudah diterima.
Dalam mendidik, beliau juga mempertimbangkan kondisi individu—terlihat dari cara beliau memberi jawaban yang berbeda pada pertanyaan yang serupa, agar lebih relevan dan mengena.
Dalam menghadapi dinamika rumah tangga, termasuk kecemburuan atau perbedaan pendapat, prinsipnya adalah mengembalikan segala urusan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana tercermin dalam kisah Surah At-Tahrim ketika Allah meluruskan keputusan Nabi yang ingin menyenangkan sebagian istri.
Dengan demikian, keluarga menjadi ruang dakwah yang hidup: perilaku sehari-hari, interaksi, dan keputusan semuanya mencerminkan nilai wahyu.
Penutup
Kajian ini mengingatkan bahwa keluarga bukan hanya unit sosial, tetapi juga ladang dakwah dan sarana menuju keselamatan akhirat. Dengan meneladani Rasulullah SAW, diharapkan keluarga Muslim—termasuk yang berada di perantauan—dapat menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya.
Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan doa bersama agar Allah menganugerahkan keluarga yang sakinah, penuh keberkahan, dan mampu melahirkan generasi saleh dan salehah.
Semoga kajian ini menjadi pengingat dan motivasi bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri dan keluarga dalam menapaki jalan yang diridhai Allah SWT.
Penulis: Aditya Satrya














