Kajian Ramadan mengupas teladan keluarga Luqman: bagaimana menanamkan tauhid, adab, dan tanggung jawab sosial kepada anak melalui nasihat bijak dan keteladanan orang tua. Simak pelajaran lengkapnya.
Muhammadiyah Deutschland e.V. kembali menggelar Kajian Ramadan 1447 H/2026 M secara daring pada Rabu, 11 Maret 2026 pukul 16.00–17.00 CET. Kajian yang menghadirkan Al-Hafidz Ustadz Hartanto Saryono, Lc ini merupakan seri ketiga dari tema besar “Keluarga-keluarga Teladan dalam Al-Qur’an” dan mengangkat pembahasan tentang Keluarga Luqman.
Melalui kajian ini, peserta diajak meneladani nilai-nilai pendidikan keluarga yang terkandung dalam nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an. Tema ini dinilai sangat relevan bagi keluarga Muslim, khususnya dalam menghadapi tantangan pendidikan anak di era modern.
Luqman dan Hikmah yang Dianugerahkan Allah
Dalam pemaparannya, Ustadz Hartanto menjelaskan bahwa Luqman dikenal dengan gelar al-Hakim, yakni sosok yang dianugerahi hikmah oleh Allah SWT. Para ulama berbeda pendapat tentang status beliau, apakah seorang nabi atau hamba saleh. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa Luqman adalah hamba saleh yang diberi karunia hikmah yang besar.
Menariknya, kemuliaan Luqman tidak berasal dari kedudukan duniawi. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa beliau berasal dari Etiopia dan memiliki profesi sederhana seperti tukang jahit atau tukang kayu. Meski demikian, Allah mengabadikan nasihatnya dalam Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh iman, hikmah, dan ketakwaan.
Peran Ayah dalam Pendidikan Keluarga
Salah satu pelajaran penting dari kisah Luqman adalah peran ayah dalam pendidikan anak. Dalam kajian ini dijelaskan bahwa pendidikan keluarga tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Meski ibu sering disebut sebagai madrasah pertama bagi anak, ayah tetap memiliki peran penting sebagai pembimbing dan pendidik dalam keluarga.
Ustadz Hartanto menekankan bahwa sesibuk apa pun seorang ayah di luar rumah, ia tidak boleh kehilangan kedekatan dengan anak-anaknya. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga penanam nilai iman dan akhlak. Kedekatan emosional antara orang tua dan anak menjadi faktor penting agar nasihat dapat diterima dengan baik.
“Sesibuk apa pun seorang ayah di luar rumah, ia tidak boleh melupakan keluarganya. Ayah tetap harus memiliki kedekatan dengan anak-anaknya agar tidak kehilangan kesempatan menjadi pendidik bagi mereka,” jelas Ustadz Hartanto.
Selain itu, pendidikan keluarga harus disertai keteladanan. Anak-anak lebih mudah meniru perilaku yang mereka lihat daripada sekadar mendengar nasihat. Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi contoh dalam menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Wasiat Luqman kepada Anaknya
Nasihat Luqman kepada anaknya yang terdapat dalam Al-Qur’an memuat sejumlah prinsip penting dalam pendidikan Islam.
Pertama, bersyukur kepada Allah. Ayat tentang Luqman diawali dengan penegasan bahwa Allah telah memberikan hikmah kepadanya agar ia bersyukur. Syukur merupakan tanda kebijaksanaan seorang hamba yang menyadari bahwa segala nikmat berasal dari Allah.
Kedua, menanamkan tauhid. Luqman menasihati anaknya agar tidak mempersekutukan Allah karena syirik merupakan kezaliman yang besar. Pesan ini menunjukkan bahwa tauhid adalah fondasi utama dalam pendidikan anak.
Menariknya, nasihat tersebut disampaikan dengan panggilan penuh kasih, “yā bunayya” (wahai anakku tersayang). Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang efektif disampaikan dengan kelembutan dan kasih sayang.
Ketiga, berbakti kepada orang tua (birrul walidain). Al-Qur’an mengingatkan betapa besar pengorbanan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, dan menyusui anaknya. Karena itu, anak diajarkan untuk bersyukur kepada Allah sekaligus berterima kasih kepada kedua orang tuanya.
Keempat, menumbuhkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Luqman mengingatkan bahwa perbuatan sekecil biji sawi sekalipun akan diketahui oleh Allah. Kesadaran ini menanamkan sikap jujur dan tanggung jawab dalam diri anak.
“Mungkin yang mulai hilang dari generasi kita hari ini adalah perasaan diawasi oleh Allah. Padahal ketika seseorang merasa diawasi Allah, ia akan lebih berhati-hati dalam setiap perbuatannya,” ungkap Ustadz Hartanto.
Kelima, menegakkan shalat sebagai bentuk nyata dari keimanan. Shalat menjadi sarana penting untuk membangun hubungan antara manusia dengan Allah.
Keenam, amar ma’ruf nahi munkar. Anak dididik untuk tidak hanya menjadi pribadi yang baik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Ketujuh, bersabar dalam menghadapi ujian. Dalam menjalankan kebaikan dan menyampaikan kebenaran, seseorang pasti menghadapi tantangan. Karena itu, kesabaran menjadi bekal penting dalam kehidupan.
Selain itu, Luqman juga mengajarkan adab dalam kehidupan sosial, seperti menjauhi kesombongan, bersikap sederhana dalam berjalan dan berperilaku, serta menjaga cara berbicara. Bahkan nada suara dalam berbicara pun diperhatikan dalam Islam karena memengaruhi bagaimana pesan diterima oleh orang lain.
Prinsip Pendidikan Islam dalam Keluarga
Di akhir kajian, Ustadz Hartanto merangkum pesan dari kisah Luqman dalam empat prinsip dasar pendidikan Islam.
Pertama, penanaman akidah sebagai fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Kedua, kesadaran akan pengawasan Allah (murāqabah) yang membentuk kejujuran dan tanggung jawab. Ketiga, pembiasaan ibadah, terutama shalat, sebagai wujud nyata dari keimanan. Keempat, pembinaan adab sosial, seperti berbakti kepada orang tua, bersikap rendah hati, dan menjaga cara berbicara.
Keempat prinsip ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya membentuk keimanan, tetapi juga membangun akhlak dan karakter dalam kehidupan bermasyarakat.
Penutup
Kajian tentang Keluarga Luqman memberikan pelajaran bahwa pendidikan anak harus dimulai dari rumah dengan fondasi iman yang kuat, nasihat yang penuh kasih, serta keteladanan dari orang tua.
Sosok Luqman al-Hakim menunjukkan bahwa pendidikan keluarga yang efektif tidak selalu memerlukan metode yang rumit. Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak, nasihat yang bijak, serta contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari merupakan kunci dalam membangun generasi yang beriman dan berakhlak mulia.
Melalui kajian ini, diharapkan keluarga Muslim dapat mengambil inspirasi dari kisah Luqman dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu membangun keluarga yang kokoh dalam iman, ibadah, dan akhlak.














