Jerman (Online via Zoom) — Kajian Ramadan 1447 H/2026 M kembali digelar secara daring setiap Rabu, pukul 16.00–17.00 CET (waktu Jerman). Video rekaman kajian terdapat pada akhir artikel ini.
Pada pertemuan pekan kedua ini, tema yang diangkat adalah “Keluarga-keluarga Teladan dalam Al-Qur’an” dengan fokus pada keteladanan Keluarga Imran, disampaikan oleh Ustadz Hartanto Saryono, Lc.
Kajian yang diikuti jamaah Muhammadiyah di Eropa ini menjadi ruang penguatan iman dan keluarga, sekaligus pengisi waktu menjelang berbuka puasa dan Shalat Magrib.
Dipilih Allah: Keluarga Imran dalam Rangkaian Keluarga Teladan
Mengawali pemaparan, moderator membacakan Surah Ali ‘Imran ayat 33–34 yang menegaskan pilihan Allah kepada manusia-manusia terbaik: Nabi Adam, Nabi Nuh, Keluarga Ibrahim, dan Keluarga Imran.
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya berasal dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran: 33–34)
Ustadz Hartanto menjelaskan bahwa sosok Imran tidak banyak diceritakan secara panjang dalam Al-Qur’an. Namun justru dari kisah yang singkat itu terlihat bagaimana kesalehan seseorang dapat melahirkan generasi yang saleh.
“Imran ini hanya sedikit disebut… tapi ada yang Allah SWT ingin sampaikan dari Imran ini: hasil tarbiyah, hasil pendidikan pada keluarga dan keturunannya.”
Ia juga menegaskan bahwa kesalehan orang tua memiliki pengaruh kuat terhadap keturunan, meskipun tidak selalu menjadi jaminan mutlak.
Nazar dan Doa: Kesungguhan Hannah Menyambut Karunia
Salah satu titik penting yang dibahas adalah kisah istri Imran—yang dalam beberapa riwayat tafsir disebut bernama Hannah—yang bernazar ketika mengandung agar anaknya kelak menjadi hamba yang berkhidmat untuk Baitul Maqdis.
إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“(Ingatlah) ketika istri Imran berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah nazar itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
(QS. Ali ‘Imran: 35)
“Beliau bernazar… ‘apa yang di perutku aku nazarkan untuk murni berkhidmat’… untuk Baitul Maqdis Al-Aqsa. Itu nazarnya.”
Ustadz Hartanto menjelaskan bahwa Hannah sebenarnya berharap anak laki-laki yang dapat berkhidmat dan berjihad. Namun ketika Allah menakdirkan lahirnya seorang anak perempuan, yaitu Maryam, ia tetap menerima dengan penuh syukur. Sikap ini menunjukkan ketundukan seorang hamba terhadap ketetapan Allah sekaligus kekuatan doa dalam keluarga yang saleh.
Memilih Pasangan Salih: Fondasi Keluarga Teladan
Dalam pelajaran yang diangkat dari penyebutan “istri Imran” dalam ayat, Ustadz Hartanto menilai terdapat isyarat penting tentang memilih pasangan yang dapat saling membantu dalam ketaatan.
“Seorang laki-laki yang sudah siap menikah itu memilih jodoh istri yang salihah, yang bisa membantunya untuk bersama-sama beribadah kepada Allah SWT.”
Ia kemudian menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah mengingatkan empat pertimbangan dalam memilih pasangan, namun agama adalah yang paling utama. Dengan pasangan yang memiliki komitmen keimanan yang kuat, keluarga lebih berpeluang melahirkan generasi yang saleh.
Amanah Pengasuhan: Keteladanan Zakaria atas Maryam
Setelah Imran wafat, Maryam diasuh dan dijaga oleh Nabi Zakaria. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pendidikan anak adalah amanah yang sangat besar, bahkan dapat melibatkan keluarga atau orang saleh di sekitarnya.
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Setiap kali Zakaria masuk menemui Maryam di mihrab, ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: ‘Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?’ Maryam menjawab: ‘Itu dari Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”
(QS. Ali ‘Imran: 37)
“Seringkali mengunjunginya untuk inspeksi, mencari tahu apa yang dilakukan… lalu ada dialog.”
Ustadz Hartanto menjelaskan bahwa perhatian Zakaria tidak sekadar sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pendidik yang hadir dan memantau perkembangan Maryam. Ia juga menyinggung realitas modern ketika banyak orang tua menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada pihak lain, padahal perhatian orang tua tetap sangat dibutuhkan.
Mengaitkan Nikmat kepada Allah dan Menjaga Kesucian
Dari dialog Zakaria dan Maryam—ketika Zakaria mendapati rezeki di mihrab Maryam—Ustadz Hartanto mengajak jamaah untuk membiasakan diri mengaitkan setiap nikmat kepada Allah.
“Maryam menjawab: ‘Ini berasal dari Allah SWT.’ … kadang luput orang mengaitkan berbagai karunia itu dengan Allah SWT.”
Beliau kemudian menjelaskan bahwa Maryam juga menjadi teladan dalam menjaga kehormatan dan kesucian diri meskipun menghadapi ujian yang sangat berat.
وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan (ingatlah) perempuan yang menjaga kehormatannya (Maryam), lalu Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah) bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 91)
Ia menegaskan bahwa dari pribadi Maryam tampak bagaimana kesucian diri dan ketaatan kepada Allah menjadi fondasi kemuliaan seseorang.
Sesi Tanya Jawab: Nazar, Keturunan, dan Fondasi Iman
Pada sesi tanya jawab, jamaah menanyakan hukum nazar. Ustadz Hartanto menjawab bahwa nazar diperbolehkan dalam Islam, dengan catatan harus ditunaikan.
“Tentang nazar, diperbolehkan, tidak ada larangan… tapi harus ditunaikan.”
Pertanyaan lain menyinggung Nabi Ibrahim yang hidup dalam keluarga dengan ayah pembuat patung. Ustadz Hartanto menegaskan bahwa hal itu tidak menghalangi Allah memilih hamba-Nya, karena pemilihan Allah adalah karunia.
“Tidak menghalangi Allah untuk memilih hamba-Nya sebagai orang yang soleh… tetap saja sebagai karunia dari Allah SWT.”
Menjawab pertanyaan moderator tentang pentingnya iman dalam pengasuhan, Ustadz Hartanto menegaskan bahwa iman adalah fondasi yang melahirkan ibadah dan akhlak.
“Kalau imannya baik, maka akan tercermin pula… hubungan baik dengan Allah, hubungan baik dengan sesama.”
Beliau mencontohkan wasiat Luqman yang mendahulukan tauhid, serta strategi tarbiyah Rasulullah SAW yang membangun iman pada fase Makkah sebelum datangnya banyak perintah dan larangan pada fase Madinah.
Namun, Ustadz Hartanto juga mengingatkan bahwa keluarga tidak cukup hanya “beriman”, melainkan perlu amal dan keteladanan.
“Maaf… tapi nggak cukup dengan iman. Dimulai dengan iman, kemudian diberikan keteladanan.”
Penutup: Menanti Kajian Berikutnya
Kajian ditutup dengan rangkuman moderator tentang kemuliaan keluarga yang tidak ditentukan oleh harta atau kedudukan, tetapi oleh iman, doa, dan kesabaran menghadapi ujian. Jamaah pun diajak untuk terus mengikuti rangkaian Kajian Ramadan ini setiap Rabu.
Semoga pelajaran dari Keluarga Imran—kesalehan orang tua, kekuatan doa, amanah pengasuhan, hingga menjaga kehormatan—menjadi bekal nyata untuk membangun keluarga sakinah yang berdaya dan berkemajuan.
Penulis: Aditya Satrya














